Perkembangan wisata di Indonesia sangatlah menjanjikan. Betapa tidak, negara kepulauan ini memang masih banyak memiliki daerah wisata yang masih alami dan belum terjamah oleh siapa pun. Berdasarkan data yang didapat redaksi harian Kompas yang diperoleh dari data BPS dan Pustadin Kemenparekraf , jumlah kunjungan wisman ke Indonesia terus meningkat signifikan. Rata-rata peningkatan di atas 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Oktober 2012 jumlah kunjungan wisman sebesar 688.341 wisman atau tumbuh 4,43 persen. Sedangkan bulan November 693.867 wisman, Desember 766.966 wisman atau tumbuh 5,94 persen.  Angka-angka ini masih akan tumbuh dengan semakin banyaknya wisatawan domestik yang juga mulai melirik potensi wisata lokal.

Sejauh ini, pemandangan alam yang ada di Indonesia, masih menjadi primadona bagi para pelancong untuk berkunjung ke Indonesia. Disusul dengan wisata bahari dan wisata budya. Sedangkan untuk wisata yang berbasis perkebunan, belum terlalu dijamah karena memang masih sedikit yang mengelola wisata jenis ini. Berbicara mengenai perkebunan yang dijadikan objek wisata, maka tidak lepas dari konsep Agrowisata.  Menurut Nurisjah dalam kuliahnya di mata kuliah Lanskap Agrowisata, agrowisata adalah wisata berbasis sektor/bidang pertanian, dalam arti luas, wisata untuk menikmati (secara fisik dan visual) aktifitas (langsung, tidak langsung) bidang pertanian. Bentuk lanskap agrowisata pun beragam, ada yang dikembangkan pada lahan private seperti di Kuntum Nursery, lahan komuniti seperti di Cinangneng, lahan koperasi seperti wisata salak di Sleman, milik perusahaan swasta seperti di Taman Buah Mekarsari atau pada lahan pemerintah seperti agrowisata di PTPN.

lanskap-agrowisataGambar1. Objek wisata pemandangan kebun sayur organik di Kuntum Nursery (2012/05/04)
Sumber : Faperta IPB

Sejauh ini,  agrowisata yang ada di Indonesia masih didominasi oleh pihak swasta, sementara pemerintah masih fokus menjual pemandangan Indonesia untuk dijadikan objek wisata. Tidak salah, mengingat memang hal tersebut perlu untuk mengenalkan Indonesia. Masalahnya, bagaimana dengan perkebunan milik pribadi atau kelompok? Apakah cukup dikembangkan sebagai perkebunan? Tentunya tidak.

Kendala lain yang dihadapi dalam perkembangan agrowisata di Indonesia adalah prasarana yang kurang memadai. Bukan hanya untuk agrowisata, untuk segala jenis wisatapun prasarana masih kurang. Buruknya sistem transportasi, minimnya tempat pengolahan sampah terpadu, sedikitnya layanan kesehatan terkadang membuat orang enggan untuk berwisata. Kedua adalah pendidikan dan pelatihan. Kesalahan pengembang wisata yang sering terjadi di Indonesia adalah tidak melibatkan peran warga sekitar secara aktif dalam pengembangan wisata. Masyarakat hanya dijadikan penunjuk arah gratisan. Seharusnya saat merencanakan daerah wisata, pengunjung pertama adalah warga sekitar, agar mereka tau secara detail objek dan atraksi apa yang disajikan, kemudian para warga yang pengangguran di berikan pelatihan. Masalah berikutnya adalah sistem manajemen dan perancangan yang buruk. Hal ini mengakibatkan daerah wisata yang semula aman, menjadi rentan bencana karena pembangunan pengembangan wisata yang tidak berkelanjutan.

Melalui perencanaan agrowisata yang tepat, perkebunan ataupun sawah masyarakat bisa dikembangkan menjadi area wisata. Ditambah dengan semangat gemar buah lokal yang baru digalakkan beberapa bulan ini oleh IPB, seharusnya ini menjadi peluang bagi mereka yang memiliki modal dan kebun tentunya untuk mengembangkan perkebunannya.

lanskap-agrowisata2.jpgDalam mengembangkan satu agrowisata hal utama yang harus diperhatikan ketersediaan objek dan atraksi wisata yang ada. Semakin langka dan unik objek wisata yang ada, maka nilai jualnya pun semakin tinggi. Salah satu objek wisata yang dapat dikembangkan adalah perkebunan buah lokal. Perkebunan Apel di Malang, mangga di Indramayu, durian di Sumatera Utara,  Rambutan di Binjai dan masih banyak lagi. Kedua adalah atraksi wisata, kegiatan apa yang ditawarkan di tempat tersebut kepada pengunjung, apakah menanam varietas pohon, memanen langsung, mencicipi buah langsung dari pohon, perbanyakan tanaman, itu semua adalah contoh dari sekian atraksi wisata yang disajikan. Keseharian dan kehidupan masyarakat setempat pun bisa dijadikan objek dan atraksi wisata. Oleh karena itu di dalam pengembangan agrowisata, peran serta masyarakat sekitar juga harus diperhatikan. Hal ketiga yang harus diperhatikan dalam perencanaan agrowisata adalah kondisi fisik dan kualitas lingkungan. Tentunya wisatawan akan merasa lebih nyaman jika mengunjungi daerah wisata yang bersih, jauh dari polusi, memiliki pemandangan yang indah, dan tidak terlalu panas. Keempat adalah aksesibilitas dan pelayanan yang baik, dan yang kelima adalah informasi. Informasi apa yang ingin disampaikan kepada pengunjung haruslah jelas dan menambah pengetahuan baru bagi pengunjung.Kemudahan informasi mengenai tapak juga penting karena akan menjadi pertimbangan calon wisatawan untuk berwisata.
    

Nama Penulis : Muhammad Agusman Lubis
Departemen   : Arsitektur Lanskap
Sumber         : Faperta IPB